20 Jan

Pemilu 2014, Kans Partai Islam Makin Meredup?

Bagaimana nasib partai Islam di Pemilu 2014? Direktur Eksekutif Skala Survei Indonesia (SSI) Abdul Hakim MS kepada beritajatim.com, Rabu (30/10/2013) menjelaskan tentang nasib parpol Islam ke depan.

Khusus untuk kasus PKS, kondisi itu tentu makin memperburuk situasi partai politik Islam di Indonesia, baik yang berideologi Islam atau yang berbasis pemilih Islam. Seperti diketahui, dari 12 partai politik peserta Pemilu 2014, ada lima partai Islam yang akan ikut berkompetisi, yakni PKS, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Bulan Bintang (PBB).

Dari kelima partai politik Islam di atas, PKS merupakan penyumbang terbesar perolehan suara partai Islam pada Pemilu 2009 silam. Dengan raihan sebesar 7,88 persen suara, elektabilitas PKS berada di atas PKB (4,94 persen), PAN (6,01 persen), PPP (5,32 persen), dan PBB (1,79 persen).

Seandainya suara PKS betul-betul terpuruk dan limpahan suaranya tak bisa digamit partai Islam lainnya, sudah barang tentu gabungan perolehan suara partai Islam akan semakin tenggelam pada Pemilu 2014 nanti. Tentu hal ini akan kembali menjadi ironi di tengah pemilih Indonesia yang mayoritas beragama Islam.

Memang, sejak era Pemilu 1955, gabungan suara partai Islam selalu kalah melawan gabungan suara partai Nasionalis. Pada pemilu 1955, gabungan suara partai Islam sebesar 43,7 persen, masih kalah dengan gabungan suara partai Nasionalis (termasuk partai berpaham sosialisme ekstrim) yang sebesar 51,7 persen.

Pada pemilu demokratis pertama di era reformasi 1999, gap lebih tajam terjadi antara partai Islam vs partai Nasionalis. Partai Islam meraih suara sebesar 36,8 persen, sementara partai Nasionalis mendapat suara sebesar 62,3 persen. Demikian halnya pada Pemilu 2004, partai Islam mendapatkan suara sebesar 38,1 persen, sementara partai Nasionalis mendapatkan suara sebesar 59,5 persen.

Di Pemilu 2009, gap curam kembali terjadi. Tingkat keterpilihan gabungan partai Islam sebesar 29,16 persen. Sedangkan gabungan elektabilitas partai Nasionalis mencapai 70,84 persen. Nahasnya, Pemilu 2009 seolah menjadi ‘kuburan’ bagi partai yang berideologi Islam. Dari enam partai politik berideologi Islam yang ikut serta dalam pemilu (PKS, PPP, PBB, PKNU, PBR, dan PMB), hanya 4 partai yang lolos aturan Parliamentary Threshold 2,5 persen, yakni PKS, PAN, PKB dan PPP.

Merujuk situasi tersebut, semestinya partai politik Islam mulai melakukan evaluasi terhadap kinerjanya. Selama ini, meski membawa nama Islam, perilaku politik para elitenya kerap tak jarang tak menunjukkan jiwa Islami yang bersih, damai, dan mementingkan kebutuhan umat. Bahkan sebaliknya, tingkah-polahnya kadangkala ‘menyakiti’ perasaan publik dengan perilaku korup dan arogan.

Prahara yang menimpa PKS seharunya bisa menjadi cermin oleh partai Islam. Kekalapan dan sikap ‘membabi-buta’ dalam membela oknum yang terjerat kasus korupsi di partainya, membuat publik makin jengah.

Yang semakin membuat jengkel publik, istilah agama selalu dipakai sebagai tameng untuk melakukan pembelaan. Karena jika hal ini tak membuat partai Islam melek mata, Pemilu 2014 sepertinya akan menjadi ‘liang lahat’ partai-partai Islam.

Pemilu pertama Indonesia di era reformasi, yaitu Pemilu 1999, angka partisipasi pemilih mencapai 92,74 persen. Angka itu menurun pada Pemilu 2004 menjadi 84,07 persen. Pada Pemilu 2009, partisipasi terus merosot menjadi hanya 71 persen. [air/tok/bersambung]

http://beritajatim.com/menuju_pemilu_2014/188153/pemilu_2014,_kans_partai_islam_makin_meredup?.html

Leave a Reply