2 Mar

Indonesia dan Momentum Tujuh Abad

Investor daily | Kamis, 17 Januari 2013

Momentum Tujuh Abad

Di awal dasawarsa abad ke-21 ini, Indonesia betul-betul menapaki fase yang cukup mengesankan. Jika media domestik terus menghujani pemerintah dengan kritik pedas terkait keburukan, namun sejatinya wajah Nusantara tak sejelek yang digambarkan. Ada banyak torehan positif yang membuat kita bisa optimis menatap era millennium ke-3 dalam kalender Gregorian ini.

Catatan positif yang paling nyata, tentu dapat kita lihat melalui baiknya pembangunan ekonomi yang dilakukan. Sejak 2001, Perekonomian Indonesia melesat sangat cepat, yakni dari 3.8 persen pada tahun 2001 menjadi 6.5 persen pada tahun 2011. Bahkan ketika krisis keuangan global menghantam pada 2009, Indonesia tetap mampu mencatatkan diri sebagai salah satu diantara tiga Negara (selain China dan india) yang berhasil menorehkan pertumbuhan ekonomi yang positif. Kala dunia dirundung krisis ekonomi ketika itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertengger diangka 4.6 persen.

Catatan positif lainnya, Indonesia juga masuk dalam berbagai akronim kelompok negara yang diprediksi menjadi pusaran baru ekonomi dunia. Indonesia masuk kelompok Negara MIST (Meksiko, Indonesia, South Korea, dan Turki) yang dianggap telah mampu menggeser ekonomi di negara-negara yang tergabung dalam BRIC (Brasil, Rusia, India, Cina). Diwaktu mendatang, MIST diprediksi akan menjadi pusaran baru perdagangan internasional. Selain MIST, Indonesia juga masuk dalam CIVETS, yang menjadi akronim dari Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turki, dan South Africa. Negara-negara ini merupakan kelompok negara ekonomi berkembang (emerging market). Indonesia pun masuk N-11, yakni merujuk pada 11 negara dengan jumlah penduduk terbesar yang berpotensi memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonimi global. Dan yang paling signifikan, Indonesia merupakan satu-satunya Negara ASEAN yang tergabung dalam kelompok G20, yakni kelompok Negara-negara ekonomi maju.

Itu sebabnya, tak berlebihan jika kemudian apreseasi dunia menghampiri bumi pertiwi. Berbagai penghargaan pun melayang ke pangkuan Presiden SBY. Kita masih ingat anugerah gelar ksatria dari Ratu Inggris, Queen Elizabeth II, berupa Knight Grand Cross of the Order of Bath. Dalam tradisi Inggris, anugerah gelar ksatria model ini hanya diberikan kepada seseorang yang memiliki prestasi luar biasa. Anugerah ini sendiri diterima oleh Presiden SBY akibat kekaguman kerajaan Inggris terhadap pesatnya pembangunan ekonomi dan demokrasi dinegeri ini.

Pada akhir September 2012 yang lalu, kita juga tak bisa lupa terhadap penghargaan yang diterima Presiden SBY dari US-ASEAN Business Council berupa “The 21st Century Economic Achievement Awards”. Penghargaan ini merupakan apreseasi karena Indonesia dipandang oleh forum ini sebagai Negara dengan kisah transformasi ekonomi dan politik tersukses abad 21. Dua penghargaan ini melengkapi sederet penghargaan positif yang telah diterima sebelumnya, yakni mulai dari penghargaan dari PBB, Majalah Time, Avatar, Newsweek maupun dari Global Microcredit Summit Campaign.

Idola Investasi

Manisnya catatan positif diawal abad ini, masih ditambah dengan proyeksi positif pembangunan ekonomi Indonesia dimasa datang. Baru-baru ini, lembaga riset bisnis dan ekonomi yang sangat terpandang di dunia, The McKinsey Global Institute, menerbitkan laporannya berjudul “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential”. Dalam laporan itu, Indonesia diprediksi akan mengalami kecenderungan kejayaan di masa depan terkait pembangunan ekonomi.

Dalam laporan itu McKinsey menyebut, pada tahun 2030 Indonesia diperkirakan akan menempati peringkat ke-7 ekonomi terbesar dunia, sesudah Cina, AS, India, Jepang, Brazil, Rusia. Saat ini, Indonesia baru menempati peringkat ke-16 ekonomi terbesar dunia sesudah AS, Cina, Jepang, Jerman, Prancis, Brazil, Inggris, Italia, Rusia, Kanada, India, Spanyol, Australia, Mexico dan korea Selatan. Mckinsey memperkirakan, kelas konsumen Indonesia akan meningkat dari 45 juta orang saat ini, menjadi 135 juta orang pada tahun 2030. Sementara diprediksi pula, para pekerja Indonesia yang memiliki keahlian pendidikan, diperkirakan akan meningkat dari 55 juta saat ini menjadi 113 juta orang pada 2030.

Ditahun 2013 ini, Indonesia juga diprediksi akan menjadi negara idola baru para investor untuk menanamkan investasinya di Asia. Merujuk hasil penelitian Asia Business Outlook the Economist Corporate Network, bersama dengan China dan India, Indonesia akan menjadi tiga negara teratas yang menjadi tujuan investasi pada tahun 2013. Dalam survei yang dilakukan terhadap 207 eksekutif senior yang mengoperasikan industri mulai dari layanan keuangan, manufaktur, ritel, dan kesehatan tersebut, Indonesia berada satu tingkat di atas Malaysia yang nangkring di posisi ke empat. Selanjutnya ada Thailand (5), Vietnam (6), Singapura (7), Korea selatan (8), Filipina (9), Australia (10), Jepang (11), Hongkong (12), dan Taiwan (13).

Bottleneck dan Momentum Tujuh Abad

Meski catatan-catatan positif di atas sudah membuat kita optimis menatap masa depan, namun yang masih harus diperhatikan adalah persoalan hambatan (bottleneck) yang siap menghentikan trend positif ini. Masih merujuk hasil sigi Asia Business Outlook the Economist Corporate Network, iklim investasi di Indonesia sebetulnya memburuk. Selama tahun 2012, Indonesia dipandang masih kurang luwes terhadap para investor. Kebijakan yang dikeluarkan seperti, pemberlakuan pajak pada sektor pertambangan, usulan batas kepemilikan asing di sektor pertambangan dan perbankan, kenaikan upah minimum pekerja (UMP), dan pembubaran BP migas, memberikan dampak pada memunculkan keraguan status perusahaan asing di Indonesia. Ditambah prilaku korup dan tak profesionalnya birokrasi kita, membuat langkah kejayaan Indonesia bisa saja tersendat atau bahkan terhenti.

Itu sebabnya, pemerintah harus sigap menangani persoalan-persoalan ini. Jangan sampai bottleneck ini bisa menjadi penghambat kembalinya momen siklus tujuh Abadan nusantara. Karena sebagaimana dikemukakan oleh Menko Perekonomian Hatta Rajasa, abad 21 merupakan era repetisi kejayaan Nusantara masa lalu.

Sebagaimana bentangan sejarah, pada Abad ke-7, Nusantara pernah mengalami kejayaan dibawah naungan Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan maritim yang berpusat di Sumatera ini, memiliki kekuasaan bukan hanya atas Sumatera, tetapi juga atas Jawa, Kalimantan, dan bahkan hingga ke Semenanjung Malaysia, Kamboja, Vietnam, Thailand Selatan, serta Filipina. Dalam perdagangan, Sriwijaya yang menguasai Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadi pengontrol jalur perdagangan antara dua pusat ekonomi utama kala itu, yaitu India dan Cina.

Sekitar 7 abad kemudian setelah kejayaan Sriwijaya, tepatnya pada abad ke-14, Kerajaan Majapahit mengalami masa kejayaan di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Wilayah kekuasaan Majapahit kala itu mencakup Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Semenanjung Malaysia, Singapura dan sebagian Filipina.

Tujuh abad berselang setelah kebesaran Majapahit adalah saat ini, abad ke-21. Tanda-tanda kembalinya kejayaan mulai terasa. Itu sebabnya, momentum tujuah Abadan ini harus dijaga. Bukan berarti percaya akan mitos, melainkan hanya memanfaatkan momentum. Karena jika bukan saat ini, mungkin Nusantara harus menunggu tujuh abad berikutnya untuk bisa Berjaya di dunia.

Leave a Reply